WELCOME

Kamis, 22 Januari 2009

DOA

Minggu, 18 Januari 2009 , 09:27:00

BENARKAH manusia mempunyai kecenderungan hanya untuk meminta, dan seolah lalai memuji serta memuliakan nama Tuhan, atas segenap rahmat dan karunia yang telah diberikanNya kepada kita? Jawabannya tentu ada pada diri kita masing-masing. Namun, alangkah baiknya bila ungkapan di atas menjadi bahan introspeksi bagi kita pribadi. Karena ungkapan itu ‘memang’ seakan mencerminkan simptom (gejala) yang seringkali melanda manusia.
Manusia memang sering khilaf untuk mensyukuri nikmat yang diberikan Tuhan atas dirinya dan lupa bahwa manusia harus menjalankan apa yang Tuhan kehendaki bukannya meminta Tuhan menurutii apa yang manusia inginkan. Bahkan ia dengan penuh semangat, semakin memenuhi dirinya dengan segala macam hawa nafsu yang pada akhirnya akan menjeratnya pula. Dalam ketakberdayaannya, masih juga ia menggerutukepada Tuhan dan menyesali sesamanya. Mengapa Tuhan seolah membiarkannya dalam kesedihan dan kesusahan yang berlarut-larut. Tanpa ia sadari bahwa sebenarnyalah segalanya itu berawal dari perbuatannya sendiri.
Hikmah yang dapat kita petik adalah: bahwa sesungguhnya manusia tidak akan dapat mengatasi segala masalah dalam kehidupan ini hanya dengan kekuatan diri sendiri saja. Walau berlaksa benda ‘berserakan’ di sekeliling kita, kita tetap perlu pemantapan, kita perlu kekuatan batin dan kekokohan iman dalam menghadapi kenyataan dan perjuangan hidup di dunia ini. Maka, doa merupakan jalinan yang paling ‘baik’ kepada Khalik kita sebagai ungkapan yang akan semakin memperteguh iman.
Doa merupakan hubungan yang paling hakiki antara kita dengan Tuhan; antara manusia sebagai makhluk ciptaan dengan Penciptanya.
Dalam doa, kita berusaha merenungi dan menghayati jalinan suci kepada Tuhan dengan bersikap:
- mawas diri
- mengokohkan hati
- mengontrol nafsu dan keinginan
- mengendalikan diri pulang kepada yang susila
- mengamalkan kebajikan dalam kehidupan, sehingga mencapai sempurna beserta kepada Tuhan.
Sungguh indah doa itu bila dilakukan dengan sungguh-sungguh, karena akan me-
Nimbulkan integritas yang kuat dari hubungan yang paling hakiki tersebut.
Oleh karena itu, amatlah janggal bila masih banyak orang yang menganggap doa sebagai kewajiban, bukannya sebagai kebutuhan. Mereka merasa wajib berdoa kepada Tuhan hanya pada hari-hari/saat-saat tertentu saja. Diluar itu, kadangkala saja dilakukan. Benarkah cara demikian ?
Padahal bila doa sudah menjadi suatu kebutuhan, maka kita akan senantiasa membutuhkan Tuhan untuk dapat berkomunikasi denganNya sehingga jalinan yang indah itu akan terus berlanjut. Dengan demikian, di dalam keadaan yang bagaimana pun, kita akan senantiasa berhasil menjaga diri (Zhongyong XIII : 2). Dengan berhasil menjaga diri, kita akan mampu memegang teguh hidup menempuh Jalan Suci selama-lamanya sampai ahhir hayat dikandung badan.
Di dalam melakukan doa dengan kesungguhan hati yang didasari kebajikanlah, Tuhan akan meridhoi dan mengabulkan doa kita.
Doa sebaiknya berisi:
- iman dan ketulusan hati
- rasa terima kasih dan syukur
- isi dan maksud doa.
Sebagai penuntun dan petunjuk, alangkah baiknya bila kita rajin untuk membuka Kitab Suci. Bukankah kita sudah memiliki Kitab Susi, Kitab Yang Empat, Kitab Suci Agama Khonghucu? Yang mana keberadaannya bukan hanya sebagai hiasan atau pelengkap belaka, melainkan Kitab yang sarat akan Firman Tuhan & Sabda Nabi Khongcu yang menjadi bahan renungan dan petunjuk dalam laku hidup kita sehari-hari, agar selaras dengan Firman. Sehingga dengan demikian, apa yang kita lakukan bukan hanya bermanfaat bagi diri kita sendiri, melainkan juga bagi sesama kita dan terutama untuk memuliakan nama Tuhan
Akhir kata: “Bila suatu hari dapat memperbaharui diri, perbaharuilah terus tiap hari, dan jagalah agar baharu selama-lamanya.” Daxue II ; 1. (Gan Kun Gie).**

Tidak ada komentar: