WELCOME

Senin, 09 Februari 2009

BENARKAH POLITIK ITU KEJAM??



Selasa, 10 Februari 2009 , 07:05:00

Penulis bukanlah ahli politik, bukan pula orang yang berkecimpung dalam lautan potilik. Namun dalam hal ini penulis hanya ingin memberikan sedikit penilaian tentang politik dalam perspektif yang berbeda yaitu dari perpektif Islam. Benarkah politik itu kejam?
Sebagian orang yang mengatakan bahwa politik itu kejam, hal ini didasari dari fenomena yang berkembang di masa lalu dan saat ini bahwa politik layaknya hutan belantara. Yang kuat dia yang menang, yang lemah jadi bahan santapan. Kawan jadi musuh, musuh jadi incaran. Jalan apapun ditempuh, sehingga timbul maskot “halal-haram hantam sajalah” demi untuk mencapai tujuan dan ambisinya. Politik dijadikan tameng untuk memuaskan hawa nafsunya untuk berkuasa, hal yang diperjuangkan sirna akibat cara-cara kotor yang dilakukan. Sehingga tidak ada kata lain selain ungkapan “politik itu kejam”.
Namun, sebagian lain berpendapat bahwa politik itu baik dan sah-sah saja, serta tidak selamanya kotor dan kejam, karena dengan berpolitik kita bisa memperjuangkan hajat hidup orang banyak. Politik adalah media untuk membuat perubahan bangsa ke arah yang lebih baik. Politik adalah bagian dari kehidupan manusia, yang mau tidak mau semua orang pasti berpolitik dalam arti yang luas. Apabila dilakukan dengan cara-cara yang santun dan baik, maka politik itu pun menjadi baik.
Apabila kita kilas balik sejarah di masa lalu, saat Islam hadir pertama kali di tanah Arab yang dibawa seorang yatim piatu Muhammad bin Abdullah yang terkenal jujur dan amanah, sangat lekat dengan nuansa politik, karena Mekkah saat itu dikuasai oleh kabilah Quraisy. Sehingga tidak heran jika sebagian orang mengatakan Islam itu pada awalnya adalah agama politik. Nabi juga berpolitik, dan dialah sang politikus ulung sepanjang zaman. Saat dakwah Islam pertama, meskipun penuh rintangan dan penentangan yang keras dari suku Quraisy, namun Nabi menjalankan dakwah Islam dengan cara yang santun, walaupun pada akhirnya pertentangan dan perlawanan yang semakin besar dari para penentang kebenaran tersebut harus berakhir dengan perang. Akan tetapi Islam bukanlah penjahat perang seperti zionis yang membunuh siapapun tanpa ampun, justru Islam lebih sering memberikan pengampunan kepada penjahat perang, seperti yang terjadi pada peristiwa Fathul Mekkah.
Syaikh Shafiyurrahman menuliskan dalam bukunya Sejarah Hidup Nabi Muhammad, bahwa Nuansa politik pada zaman Nabi diwarnai dengan dibentuknya Majlis Tinggi Permusyawaratan Militer, dalam majlis tersebut dibahas tentang kondisi baru yang sedang dihadapi, dan bertukar pikiran antara seluruh prajurit dan para pemimpin. Selain itu, Nabi juga pernah mengadakan Perjanjian-perjanjian politik diantaranya Bait Aqabah 1 dan 2 (ketika Nabi di Mekkah) dan perjanjian Hudaibiyah (saat di Madinah) dengan kaum Quraisy saat Nabi hendak kembali ke mekkah.. Di Madinah, Nabi juga melakukan diplomasi dengan mengirimkan surat kepada para raja dan amir. Sehingga pada saat itu Islam mencapai kejayaannya di tangan politikus ulung Muhammad SAW. (Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubaraqfury, 285)
Dalam sejarah kehalifahan babak ke II, ketika umat Islam mencari pengganti sepeninggal Rasulullah SAW. Tidak ada nuansa politik kotor dan kejam sedikitpun bahkan tidak ada satu orang pun yang bernafsu dan berebut untuk berkuasa. Hal ini cukup kontras dengan nuansa pemilihan bupati, gubernur bahkan presiden sekalipun dalam kancah perpolitikan kita.
Hal ini memberikan pelajaran berharga kepada kita bahwa dalam berpolitik hendaknya kita menggunakan cara-cara santun, dan memilih pemimpin harus berdasarkan kualitas dan kredibitas, bukan duitnya. Namun, yang tidak boleh dilupkan juga ketika telah menjadi pemimpin bersikap rendah hatilah, dan ingat bahwa pemimpin adalah “seseorang yang berada di antara orang banyak bukan orang banyak banyak yang berada dalam seseorang”. Kilas balik sejarah perpolitikan Islam di zaman Nabi Muhammad SAW dan sahabat tersebut, mampu menampilkan nuansa politik yang santun yang berhasil mengantarkan sang politisi ulung Muhammad SAW sebagai pemimpin Negara sekaligus sebagai pemimpin agama. Hal ini sekaligus membuktikan bahwa berpolitik itu tidak selamanya kejam dan kotor, tergantung siapa dan bagaimana ia berpolitik. Dengan demikian terlalu naif kiranya jika kita memvonis bahwa politik itu pasti kejam dan kotor. Padahal tidak semua dan tidak selamanya politik itu kejam dan kotor. Selain itu, kita juga tidak bisa serta merta menyalahkan politik sebagai sumber kekejaman, menurut penulis politiknya tidak kejam dan kotor, namun pelaku atau orang yang berpolitiklah yang menyebabkan politik itu menjadi kotor atau kejam.
Jika seseorang berpolitik dilandasi dengan cita-cita yang mulia dan digerakkan dengan kekuatan iman di setiap aktivitasnya, maka akan memberikan manfaat bagi orang banyak, begitu juga sebaliknya.
Saat ini, penulis yakin masih banyak politikus berpotensi dan berprestasi yang memiliki niat yang tulus untuk mengabdi, tidak menggunakan cara-cara kotor dan kejam dalam berjuang. Oleh karena itu kita harus cerdas dalam memilih pemimpin kita, yang akan mewakili kita di kursi parlemen. Jangan sampai kita terpengaruh dengan cara-cara curang yang dilakukannya untuk memperoleh suara. Semoga pemilu legislatif 2009 berjalan dengan demokratis, aman dan bebas dari praktek politik kejam dan kotor. **





Tidak ada komentar: