WELCOME

Senin, 09 Februari 2009

SUBHANALLAH



Jum'at, 23 Januari 2009 , 08:59:00

SAKING utamanya waktu subuh, maka diantara doa yang dibaca Rasulullah SAW untuk umatnya ialah “ Wahai Tuhanku, berkahilah ummatku yang suka bangun subuh!“. Dalam hadis lain beliau SAW memberi kabar gembira kepada pengikutnya, “Berpagi-pagilah kamu dalam mencari segala hajat dan keperluan karena sesungguhnya di waktu subuh itulah terdapat keberkahan“.Rasulullah SAW juga menegaskan “Siapa yang shalat fajar berjemaah, kemudian dia duduk untuk berzikir sampai terbit matahari, kemudian dia shalat dua rekaat, dia akan mendapatkan pahala seperti pahalanya orang yang berhaji dan berumrah, secara sempurna, secara sempurna dan secara sempurna“. Sebuah riwayat menyebutkan bahwa kebiasaan yang dilakukan oleh Rasulullah SAW saat akan melaksanakan shalat subuh adalah membangunkan anak perempuannya Fatimah, seraya berkata “Bangunlah anakku dan saksikanlah, sesungguhnya Tuhan menetapkan pembagian rezeki manusia adalah pada saat-saat setelah fajar menyingsing dan sebelum matahari terbit “.

Pada suatu hari, beliau membangunkan Fatimah untuk pergi melaksanakan shalat, tetapi dia tidak bangun karena pada malam harinya melaksanakan shalat tahajjud. Kemudian Rasulullah SAW berkata, “Wahai Fatimah, apa yang menghalangimu untuk bangun pada waktu seperti ini? Tahukah kamu bahwa waktu ini adalah waktu pembagian rezeki?” Aisyah RA balik bertanya “Saya heran dengan orang yang melaksanakan shalat subuh setelah matahari terbit. Bagaimana dia mendapatkan rezeki? “ Nabi SAW. Menjawab, “Dia diberikan rezeki seperti halnya orang kafir“. Maksudnya rezeki yang diterima olehnya tidak terdapat unsur keberkahan sama sekali.
Simaklah salah satu contoh nyata. Saudara kita di Saudi Arabia utamanya Jazirah Mekah dan Madinah senantiasa menunaikan dan menjaga shalat subuh berjemaah tepat pada waktunya. Maka Allah mengaruniakan minyak di dalam perut bumi untuk kepentingan mereka.Untuk mengeluarkannya, maka Allah menggerakkan musuh Allah – kaum Musyrikin – untuk mencari dan melakukan pengeboran guna mengeluarkan minyak dari dalam bumi tersebut. “Pekerjaan yang dilakukan oleh penduduk teluk hanyalah duduk bersantai di daerah pelabuhan guna mengambil bagian mereka, tanpa dibarengi rasa lelah dan menggunakan tipu muslihat. Itu disebabkan karena mereka mau menunaikan panggilan Allah dan menjaga kewajiban shalat. Sebaliknya, jika mereka menyepelekan shalat, maka Allah akan menyibukkan mereka dengan peperangan hingga menghabiskan rezeki yang telah dibagikan Allah kepada mereka,“ kilah Fauzi Muhammad Abu Zaid dalam buku ‘Jadilah Al Quran Berjalan di Bumi“ (Terjemahan).
“Buya Hamka tak pernah terlambat bangun subuh. Jauh sebelum fajar menyingsing ia sudah kedengaran ‘ramai’ di kamar mandi. Bunyi langkah-langkah, bunyi kran air dan ember di kamar mandi, kemudian bantuk-batuknya tetap kedengaran sebelum pukul empat. Bila tidak dalam keadaan uzur, Buya jarang sekali meninggalkan sembahyang tahajjud, terutama setelah bebas dari tahanan tahun 1966. Selesai tahajjud, lalu membangunkan semua isi rumah. ‘Subuh, subuh, shalat!’ bunyi suaranya disertai dengan gedoran pintu kamar anak-anak dan pembantu. ‘Cepat, cepat‘, kata suara itu. ‘Buka jendela‘ perintah selanjutnya. Buya menunggu sampai kami selesai semuanya, kemudian beriringan menuju masjid atau ke ruang shalat di rumah bila hari hujan,“ demikian kilah Ruysdi Hamka menerangkan kebiasaan ayahnya dalam buku ‘HAMKA di mata hati umat.’
Mantan ketua MUI Pertama itu juga pernah berpesan “Orang-orang yang melakukan bangun subuh, setiap hari bertambah umurnya dua jam, sebaliknya orang yang bangun terlambat membuang umurnya beberapa jam, karena tidur sama dengan mati. Jendela-jendela mesti dibuka, karena pintu dan jendela yang terbuka sejak pagi – pagi sekali akan didatangi oleh malaikat pembawa rezeki, malaikat tak mau masuk rumah yang masih terkunci di waktu fajar telah meninggi. Begitu diajarkannya pada anak-anak dan cucu-cucunya, dan kami percaya,“ (Buya Antara Cita, Amal dan Gengsi oleh Rusydi ).
Di zaman pemerintahan Umar bin Abdul Aziz RA, antara lain dikisahkan, satu petak sawah bisa menghasilkan 20 ton gandum, dibanding sebelumnya hanya rata-rata 5 ton. Bahkan di salah satu Musium di Timur Tengah, ada biji gandum sebesar telur burung merpati, saking suburnya tanaman pada waktu itu. Diantara kebiasaan Khalifah yang adil itu, ialah setiap malam melakukan ronda hanya untuk memastikan apakah rakyatnya telah melakukan salat tahajjud. Sebab kalau orang sudah mampu bangun salat tahajjud, maka otomastis dia akan mudah menghadiri salat subuh si masjid.
Dalam bagian lain, Fauzi Muhammad Abu Zaid penulis buku ‘Kunuu Quranan Yamsyi baina an-Nas‘ menulis “Jika Allah telah memberkahi sumber penghasilan manusia – dalam hal ini makanan yang dikonsumsi, maka Allah pun akan memberkahi anak lelaki dan perempuan, hingga mereka tidak lagi membutuhkan les-les privat yang menghabiskan puluhan bahkan ratusan ribu biaya “.
Sehelai jilbab yang biasanya dipakai dalam masa satu tahun akan bisa bertahan hingga dua puluh tahun lamanya dikarenakan berkah dari Allah. Rumah yang dibangun dari kayu belian oleh nenek moyang kita, bisa bertahan hingga ratusan tahun lantaran dibangun atas dasar berkah, rasa takwa, dan sumbernya dari rezeki yang halal. Diantara ciri rumah yang berkah, kilah seorang ahli hikmah “Selalu muncul keinginan dari para penghuninya untuk segera kembali pulang ke rumah berkumpul bersama keluarga, dan melakukan ketaatan kepada Allah baik dengan melakukan ibadah ritual maupun ibadah sosial, walaupun bangunan fisiknya sangat bersahaja ( sederhana ) “. Wallahualam. **

Tidak ada komentar: