Jumat, 1 Agustus 2008 Mengatasi Kemelut dengan Memperbanyak Istighfar Oleh : Uti Konsen.U.M.
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah SWT. memaafkan sebagian besar ( dari kesalahan-kesalahanmu ) . QS.Al Syura ( 42 ) : 30 )
Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa memperbanyak istighfar, niscaya Allah akan menjadikan untuk setiap kesedihannya jalan keluar, dan untuk setiap kesempitannya kelapangan, dan Allah mengarunianya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya“. (HR.Ahmad).
“Apalah jadinya bila Allah tidak memberi kita jalan untuk menghapus dosa. Sudah pasti neraka akan penuh sesak. Berbahagialah kita karena ada jalan istighfar. Satu cara yang sangat mudah untuk menghilangkan “bahaya“ yang mengancam keselamatan kita di dunia dan akhirat. Tidak saja itu, ternyata istighfar akan menjadi jalan bagi kita untuk mendapatkan keuntungan-keuntungan lainnya “. (Buku Keajaiban Istighfar oleh Ibnu Muhammad Salim).
“Kita tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika Tuhan menutup kesempatan manusia untuk bertobat. Padahal setiap orang bisa saja tergelincir dalam lembah dosa setiap saat,“ kilah Opick “Tombo Ati“, penyanyi lagu ‘Istighfar‘. “Istighfar adalah pembersihan diri seorang hamba, untuk kemudian mendengarkan seruan fitrah, dan menjalani kebaikan yang melahirkan kesejahteraan,” ujar Abdul Halim Fatahni dalam buku ‘Ensiklopedi Hikmah’.
Suatu ketika Rasulullah SAW duduk di masjid bersama sejumlah sahabatnya. Tiba-tiba datang seorang lelaki menghampirinya dan mengeluh karena hujan tak kunjung turun. Rasul SAW menasehati “Beristighfarlah“. Tak lama berselang, datang lagi seseorang yang mengadukan kesulitan ekonominya. “Beristighfarlah“kata Nabi. Berikutnya ada juga yang berucap “Wahai Rasulullah! Isteri saya mandul“. Lagi - lagi Nabi SAW berkata “Beristighfarlah“.
Abu Hurairah RA. terheran-heran dan bertanya “Ya Rasul, penyakitnya banyak tapi obatnya hanya satu“. Maka Nabi Mulia itu menjawab “Simaklah firman Allah, ‘Beristighfarlah kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Zat Yang Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan padamu dengan lebat, membanyakkan harta dan anak-anakmu, mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai“.
Dalam kaitan ini Rasulullah SAW. bersabda “Sesungguhnya dosa senantiasa mengelilingi hatiku dan aku memohon ampun kepada Allah 100 kali dalam sehari“. (HR.Muslim). Diriwayatkan bahwa Umar bin Khatthab RA, ketika minta hujan kepada Allah hanya mengulang-ulang bacaan istighfar. Ketika ditanya, mengapa hanya membaca istighfar, sedangkan maksudnya minta hujan? Umar menjawab dengan membacakan surah Nuh (71) : 10-12 tersebut.
Imam Al Hassan Al Basri , salah seorang ulama tabiin, setiap kali datang kepadanya orang-orang yang mengeluh misalnya karena kefakiran, tidak adanya lapangan kerja, dan kesulitan untuk mendapatkan keturunan, ia menjawab dengan anjuran memperbanyak istighfar. Seorang ahli hikmah, Al-Hasan Al-Jaduah, juga bila datang kepadanya seseorang yang mengeluh karena sengsara, ia hanya menjawab “ istighfarlah“. Datang lagi yang lain mengeluh karena kelaparan, kemiskinan dan kefakiran, ia juga menjawab “istighfarlah“. Demikian seterusnya, apa pun yang dimintai nasehat oleh seseorang kepadanya, ia hanya menyuruh untuk memperbanyak istighfar kepada Allah.
Menurut Al Qurthubi, surah Nuh (71) ayat 10-12 tersebut menunjukkan bahwa istighfar merupakan salah satu sebab untuk datangnya rezeki dan hujan. Sementara menurut Ibnu Katsir, “Jika kalian bertobat kepada Allah SWT, meminta ampunan dan menaati-Nya, niscaya Allah akan membukakan jalan rezeki, mengalirkan air yang membawa keberkahan dari langit, dan menumbuhkan dari bumi segala keberkahannya berupa tanam-tanaman, serta menyuburkan air susu ibu. Pun akan dianugerahkan kepada mereka harta dan anak-anak, kebun-kebun yang subur dengan segala macam buah-buahan, di tengah-tengahnya mengalir air yang tidak pernah berhenti “.
Begitulah kejelian para ulama akhirat sejak zaman dahulu. Mereka tidak memandang satu persoalan dari sisi kulitnya saja, melainkan tertuju pada akar persoalan sebagaimana yang dibimbing oleh wahyu Ilahi. Bandingkan dengan orang-orang pada zaman sekarang yang hanya mengedepankan rasio saja dalam menganalisis masalah. Bila negerinya tertimpa bencana apakah itu kekeringan, kebakaran, gempa bumi, banjir, wabah penyakit, hama tanaman dan lain sebagainya, mereka tidak segera berpikir bahwa semua itu tidak lain adalah akibat dari dosa yang dilakukannya seperti yang ditegaskan Allah SWT. dalam surah Al Syura ayat 42 dan 30. Kita teringat dengan ungkapan Prof Dr. Sauki Futaki (Allahumma Yarham), tokoh Muslim Jepang “Yang membuat manusia modern mudah resah dan gelisah, karena mereka terlalu mengandalkan kepada kemampuan otaknya sedangkan dengan Allah semakin bertambah jauh“.
Demikian agungnya istighfar. Sebuah langkah yang selama ini selalu kita abaikan dalam mencari jalan keluar dari berbagai krisis yang kita hadapi. Dengan beristighfar, kita berupaya menyalakan kembali kesadaran kita. Kita mendekatkan diri kepada-Nya, menghilangkan jarak antara kita dengan-Nya. Sehingga, Allah selalu hadir dalam kehidupan kita, entah kala suka maupun duka, entah lapang atau sempit. Sesulit apa pun masalah, Allah SWT selalu membukakan pintu-pintu solusi bagi para ahli istighfar. Insya Allah. Amin. Wallahualam. ** |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar