SEJARAH mencatat, bahwa kebangkitan dan kemenangan umat Islam tidak saja diperjuangkan dengan keringat dan darah. Tetapi juga dengan linangan air mata tahajjud. Inilah yang Allah dijanjikan dalam QS Al Isra 79. “Sungguh terbukti bahwa maqaman mahmudan ‘ kedudukan terpuji ‘ diraih oleh umat Islam. Dua pertiga bumi dikuasai. Azan menjadi nada musical terindah selama tujuh abad lamanya. Inilah kedahsyatan qiyamul lail, “ kilah M.Arifin Ilham dalam naskahnya’ Tahajjud‘.
Betapa banyak kelompok yang lemah atau sedikit jumlahnya, tetapi berkualitas (mukmin) mengalahkan kelompok yang banyak, tetapi sekedar kuantitas (kafirun, munafikin, fasikun, musyrikun) dengan izin Allah (Al Baqarah 249). Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan kondisi Nabi SAW pada malam perang Badar antara lain katanya, “Pada saat perang Badar, Rasulullah SAW bermalam dalam keadaan salat di bahwa pohon. Dalam sujudnya, beliau mengucapkan doa “Ya hayyu ya qayyum. Ya Allah janganlah Engkau tinggalkan aku, ya Allah, janganlah Engkau biarkan aku sendirian, ya Allah janganlah Engkau hinakan aku. Ya Allah kaum Quraisy yang akan aku perangi ini benar-benar telah sampai pada puncak keangkuhan dan kesombongannya, mereka membantah dan mendustakan Rasul-Mu. Ya Allah, pertolongan-Mu yang telah Engkau janjikan kepadaku itulah yang aku harapkan. Ya Allah, sesungguhnya saya menyenandungkan ( menagih ) jaminan dan janji-Mu. Ya Allah, jika Engkau mau, Engkau bisa saja tidak disembah!“.Beliau ulang terus menerus sambil menangis memohon kemenangan kepada Allah SWT. hingga waktu subuh“.
Rasulullah SAW berdoa terus menerus sampai surbannya melorot. Melihat hal itu Abu Bakar segera mendatanginya, mengambil kain surbannya itu, mengembalikannya ke bahu beliau, dan mengenakannya kembali ke tubuh beliau dari belakang. Abu Bakar pun berkata “Wahai Nabi Allah, cukuplah rintihanmu kepada Allah , karena Dia pasti akan memenuhi janji-Nya padamu“.
Doa Rasulullah SAW dijawab Allah dengan firman-Nya, “Ingatlah, ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu’’ Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut“. ( Al Anfal : 9 ).
Pada saat pasukan Adikuasa Romawi pada waktu itu cerai berai oleh gempuran kaum Muslimin yang jumlahnya lebih sedikit dan dengan persenjataan yang seadanya, kaisar Romawi Heraclius dengan penuh penasaran dan heran, bertanya kepada pasukannya “Apa yang menyebabkan kalian tercerai berai menghadapi mereka, padahal jumlah mereka itu lebih sedikit dibanding kalian? “Seorang pembesar Romawi paling senior berkata “Karena mereka itu senantiasa melakukan doa di malam hari ( qiyamul lail ) dan berpuasa pada siang harinya “.
Ketika kaisar Heraclius dalam perjalanan pulang menuju ibukota kerajaan Romawi, ia bertanya lagi kepada salah seorang tentaranya yang pernah menjadi tawanan kaum muslimin. ”Ceritakanlah kepadaku tentang kaum muslimin itu, bagaimana ia bisa mengalahkan kita? “ Sang tentara itu menjawab, “Saya akan mengabarkan kepada Tuan, seolah-olah Tuan melihat mereka langsung. Mereka itu adalah tentara – tentara yang gagah perkasa di siang hari, namun mereka itu adalah laksana pendeta di malam hari. Mereka tidak makan apa yang ada di tangan mereka, kecuali hanya sekedarnya. Mereka tidak masuk (kemana pun) melainkan mengucapkan salam terlebih dahulu. Mereka akan menunggu orang-orang yang memerangi mereka, sampai orang-orang itu datang kepada mereka!”. Mendengar penuturan tentaranya itu, kaisar Heraclius pun berkata, “Jika kamu katakan itu benar, pasti mereka itu akan mampu mengusai tempat di mana dua kakiku ini berpijak (wilayah kekuasaan) “.
Simak pula kisah berikut yang juga mirip. Ketika imperium raksasa dunia lainnya, yaitu Persia juga tumbang oleh kekuatan umat Islam yang baru muncul, Raja Persia mengirim utusan untuk meminta bantuan kepada Kaisar Cina. Denga keheranan, Kaisar Cina bertanya, “Apa gerangan kekuatan istimewa tentara Islam? “. Utusan Persia itu menjawab, “Malam bagaikan pendeta dan siang laksana singa Tuhan “.Maknanya, di malam hari mereka menjalin hubungan mesra dengan Allah. Siang mereka sebagai pejuang yang gagah berani.
Al Qadhi Bahaudiin berkata, “Shalahuddin Al Ayyubi mendengar bahwa musuh benar-benar datang untuk menyerang kaum muslimin atas pada saat telah dekat masa dilmulainnya peperangan dengan tentara musyrikin, ia terjaga sepanjang malam berfikir keras tentang urusan kaum muslimin. Sambil sujiud ia berdoa kepada Allah seraya berucap “Wahai Tuhanku, aku telah mengupayakan segala usaha yang bersifat duniawi untuk menolong agama-Mu, namun tak ada lagi yanhg tersisa kecuali bergantung kepada-Mu. Engkaulah yang mencukupiku, karena Engkaulah sebaik-baik Dzat yang diserahi urusan“.
Al Qadhi melanjutkan penuturannya, “Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri, Shalahuddin Al Ayyubi bersujud dengan air mata membasahi pipi dan tempat sujudnya. Saya tidak mendengar apa yang diucapkannya, hanya saja belum sampai habis hari itu, melainkan datang berita-berita kemenangan kaum muslimin atas musuh “ (Buku Dahsyatnya Doa di Tengah Malam oleh Ust.Syamsuddin Noor).
Konon, setiap malam pada saat lewat tengah malam ,Shalahuddin Al Ayyubi sebagai Panglima Perang, keluar untuk meyakini apakah anggota pasukannya melaksanakan salat tahajjud atau tidak. Bagi tentara yang tidak salat tahajjud pada malam itu, maka ia tidak diikut sertakan dalam peperangan. Alasannya “ Saya khawatir hal itu merupakan hijab ( terhalangnya ) datangnya pertolongan Allah, “ujarnya. Rasulullah SAW bersabda, “Raihlah kemenangan dan kemuliaan dengan bangun salat malam saat manusia lelap tidur “. Wallahualam. **
Tidak ada komentar:
Posting Komentar